Lhok Mata Ie, Pantai Tersembunyi di Aceh Besar
Liburan
akhir tahun ke Aceh tidak selalu di Banda Aceh atau Sabang. Ada pantai
cantik untuk bernarsis ria, yang letaknya cukup tersembunyi, yaitu Lhok
Mata Ie di Kabupaten Aceh Besar.
Lhok Mata ie Lokasi merupakan tempat untuk bersantai, nyaman, dengan suasana yang alami. Di sini Anda dapat berenang, kemping, dan melakukan perjalanan menantang berjalan kaki selama 1 jam.
Anda akan melewati hutan dan kebun milik penduduk. Khusus bagi traveler non muhrim alias bukan suami istri, dilarang ke lokasi ini, kecuali Anda dapat izin dari Pimpinan Kampung
Pantai dengan gradasi warna air laut yang indah ini juga diapit perbukitan dikiri dan kanan. Serakan bebatuan dalam skala besar disepanjang kaki bukit bisa jadi merupakan rumah bagi ribuan ekor ikan. Sehingga tidak salah kalau akhirnya lokasi ini menjadi pilihan utama para pemancing. Bahkan demi memuaskan hobi menangkap ikan dengan bantuan kail ini, para pemancing rela bermalam diantara bebatuan tersebut tanpa didukung fasilitas tenda sekalipun, sungguh semangat yang luar biasa. Seperti juga pesona alamnya yang sungguh sangat luar biasa.
Lhok Mata Ie berada di kawasan Ujung Pancu, masuk dalam wilayah kecamatan Peukan Bada. Meski berada dibawah pemerintahan kabupaten Aceh Besar, kawasan ini sendiri merupakan daerah perkampungan pesisir pantai yang terletak tidak jauh dari ibukota Propinsi Aceh. Dengan kondisi jalan yang bagus, ujung pancu dapat ditempuh dengan berkendara sekitar 20 menit dari pusat kota Banda Aceh.
Meski
memiliki garis pantai yang pendek untuk aktifitas berenang dan
snorkeling -karena selebihnya garis pantai dipenuhi oleh hamparan
bebatuan- lokasi yang membentuk teluk kecil ini sangat mengagumkan.
Berpasir putih serta berombak tenang. Ombak yang tenang ini bisa jadi
tercipta karena faktor 2 pulau yang berada tak jauh dari lepas pantai
yaitu Pulau Lumpat dan Pulau Batee. Beningnya air membuat karang-karang
terlihat jelas. Kelebihan lain yang dimiliki Lhok Mata Ie adalah
gradasi warna air laut disekitarnya. Warna biru muda, kehijauan dan biru
tua mampu menciptakan gradasi warna yang mempesona indra penglihatan
para pengunjung.
Lhok Mata ie Lokasi merupakan tempat untuk bersantai, nyaman, dengan suasana yang alami. Di sini Anda dapat berenang, kemping, dan melakukan perjalanan menantang berjalan kaki selama 1 jam.
Anda akan melewati hutan dan kebun milik penduduk. Khusus bagi traveler non muhrim alias bukan suami istri, dilarang ke lokasi ini, kecuali Anda dapat izin dari Pimpinan Kampung
Pantai dengan gradasi warna air laut yang indah ini juga diapit perbukitan dikiri dan kanan. Serakan bebatuan dalam skala besar disepanjang kaki bukit bisa jadi merupakan rumah bagi ribuan ekor ikan. Sehingga tidak salah kalau akhirnya lokasi ini menjadi pilihan utama para pemancing. Bahkan demi memuaskan hobi menangkap ikan dengan bantuan kail ini, para pemancing rela bermalam diantara bebatuan tersebut tanpa didukung fasilitas tenda sekalipun, sungguh semangat yang luar biasa. Seperti juga pesona alamnya yang sungguh sangat luar biasa.
Lhok Mata Ie berada di kawasan Ujung Pancu, masuk dalam wilayah kecamatan Peukan Bada. Meski berada dibawah pemerintahan kabupaten Aceh Besar, kawasan ini sendiri merupakan daerah perkampungan pesisir pantai yang terletak tidak jauh dari ibukota Propinsi Aceh. Dengan kondisi jalan yang bagus, ujung pancu dapat ditempuh dengan berkendara sekitar 20 menit dari pusat kota Banda Aceh.
Titik
awal perjalanan menuju Lhok Mata Ie –hanya bisa ditempuh denga berjalan
kaki- dimulai dari salah satu peternakan ayam yang terletak di kawasan
Ujung Pancu. Anda pasti bertanya, bagaimana dengan kendaraan pribadi?
Tidak perlu cemas, di salah satu rumah penduduk yang merupakan bagian
dari peternakan ayam sekaligus memiliki halaman yang luas, pengunjung
bisa memarkirkan kendaraan pribadi mereka. Gratis? Tentu saja tidak,
cukup membayar lima ribu rupiah perkendaraan untuk sehari, kendaraan
anda dijamin aman. Harga yang sama juga dikenakan bagi pengunjung yang
akan menginap di Lhok Mata Ie.
Untuk mencapai pantai Lhok Mata
Ie, bukan hanya perbekalan yang harus dipersiapkan tapi kondisi tubuh
yang fit juga sangat dibutuhkan. Karena perjalanan menuju Lhok Mata Ie
adalah tantangan sekaligus kenikmatan. Tantangannya adalah tanjakan
diawal perjalanan, Normalnya, tanjakan ini ditempuh sekitar 15 menit,
meski terbilang singkat namun sangat menguras stamina. Jalur pendakian
ini melewati kebun-kebun penduduk dan hutan. Melintas diantara semak,
tumbuhan perdu dan pohon-pohon besar sampai akhirnya anda menemukan
tempat pemberhentian pertama yaitu sebuah area datar di puncak bukit
yang memiliki luas sekitar 16 meter persegi.
Dari lokasi
pemberhentian ini, sisa perjalanan menuju Lhok Mata Ie bisa ditempuh
lebih kurang 30 menit lagi. Jalur selanjutnya yang harus dilalui
tidaklah seberat yang pertama. Sebagian besar jalur yang akan dilewati
sudah mulai menurun, beberapa mendatar dan ada satu kali pendakian lagi.
Lintasan dijalur ini merupakan lokasi favorit para penggila foto.
Bayangkan, anda akan disuguhi hamparan ilalang laksana permadani
hijau-kekuningan setinggi pinggang orang dewasa, tumbuh mengikuti kontur
bukit dan diselingi pohon-pohon beranting atau minus daun yang
menyembul diantara padang ilalang dengan latar belakang hutan tropis.
Mengingatkan kita pada serial televisi popular di era 80-an, Little
House on the Prairie.
Pantai dengan gradasi warna air
laut yang indah ini juga diapit perbukitan dikiri dan kanan. Serakan
bebatuan dalam skala besar disepanjang kaki bukit bisa jadi merupakan
rumah bagi ribuan ekor ikan. Sehingga tidak salah kalau akhirnya lokasi
ini menjadi pilihan utama para pemancing. Bahkan demi memuaskan hobi
menangkap ikan dengan bantuan kail ini, para pemancing rela bermalam
diantara bebatuan tersebut tanpa didukung fasilitas tenda sekalipun,
sungguh semangat yang luar biasa. Seperti juga pesona alamnya yang
sungguh sangat luar biasa.
Sumber : http://arieyamani.blogspot.com/2013/02/lhok-mata-ie.html
Post By : http://muhammadharwalis.blogspot.com/
Menjelajah Pantai Eksotis Lhok Mata Ie
Yuswardi A. Suud | 07 February 2014 - 18:27 pm
Medan yang menanjak membuat perjalanan ke Lhok Mata Ie tak mudah. Di
puncak bukit, kami bertemu serombongan ibu-ibu yang sedang menanam
cabai.
Selebihnya adalah sunyi.Sesekali terdengar suara monyet yang mengerang sambil bergelantungan di atas pohon. Tak ada rumah-rumah penduduk, manusia yang lalu lalang atau pondok-pondok seperti layaknya sebuah tempat wisata. Tak ada pula raungan kendaraan memekakkan telinga. Semua terlihat alami, seolah tak terjamah manusia.
Inilah pantai Lhok Mata Ie. Tersembunyi di balik bukit, pantai ini benar-benar memanjakan mata. Berlama-lama di sini, seperti berada di sebuah dunia lain yang jauh dari hiruk pikuk rutinitas manusia.
Secara geografis, Lhok Mata Ie terletak di balik bukit Ujong Pancu, Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Jika Sabang adalah nol kilometernya Indonesia, Ujong Pancu nol kilometer Pulau Sumatera.
Hari itu, Sabtu dua pekan lalu, saya bersama tiga teman --dua lelaki, satu perempuan-- menjelajah pantai itu. Ini adalah kali kedua saya ke sana setelah 12 tahun tak menjejakkan kaki di pantai itu. Kawasan itu sempat terlarang dikunjungi saat perang masih bergolak di Aceh. Perpaduan bukit dan pantai membuat kelompok gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka memilihnya sebagai salah satu lokasi persembunyian. Setelah perang usai pada 2005, barulah satu persatu orang berani mendaki ke sana.
Perjalanan menuju Lhok Mata Ie dimulai dari kaki bukit Ujong Pancu. Dari pusat kota Banda Aceh, kami menuju ke arah Ulee Lheue yang dikenal sebagai kawasan wisata tsunami. Hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba di sana. Dari sini, perjalanan dilanjutkan ke Ujong Pancu yang memakan waktu sekitar 10 menit. Dari sinilah, petualangan mencari pantai tersembunyi dimulai. Jarum jam menunjukkan angka 10.45 ketika kami tiba di sana.
Usai menitipkan sepeda motor di Yayasan Lamjabat di kaki bukit, kami harus mendaki bukit dengan berjalan kaki. Hanya ada jalan setapak sebagai penanda jalan itu pernah dilewati. Di kiri kanan berjejer pohon-pohon beraneka ukuran. Setelah 20 menit berjalan, kami bertemu padang rumput yang mengingatkan pada hamparan Padang Savana di Afrika sana. Di sanalah kami melepas lelah, sambil tak lupa memotret.
"Inilah lokasi tercantik sepanjang perjalanan sebelum kita tiba di pantai," ujar Yanti Oktiva yang menemani kami hari itu.
Yanti bukan perempuan biasa. Berusia 25 tahun, ia bergiat di kelompok pecinta alam. Kecintaannya pada alam membuatnya menekuni hobi memotret alam. Setiap ke Lhok Mata Ie, ia memuat foto-foto hasil jepretannya di laman Facebook miliknya. Tak disangka, ternyata beberapa temannya tertarik datang ke Lhok Mata Ie. “Sekarang saya seperti guide saja. Kadang-kadang seminggu bisa tiga kali saya membawa teman mendaki ke sini,” kata Yanti.
Medan yang menanjak membuat perjalanan ke Lhok Mata Ie tak mudah. Di puncak bukit, kami bertemu serombongan ibu-ibu yang sedang menanam cabai. Mereka memotong kayu, lalu menyulap bukit itu menjadi lahan kebun cabai.Mereka sempat melambaikan tangan ketika kami melintas.
Melewati kebun cabai, jalanan mulai menurun. Setelah menempuh perjalanan 45 menit, akhirnya kami tiba di lokasi yang dituju: pantai Lhok Mata Ie. Disebut Lhok Mata Ie, lantaran ada mata air yang mengalir sebelum menginjakkan kaki di tepi pantai.
Hamparan pasir putih yang membentang, membuat rasa lelah sepanjang perjalanan menguap entah kemana. Lokasi yang sulit dijangkau, membuat hanya orang-orang tertentu yang berkunjung ke sini seperti kelompok pecinta alam dan para pemancing.
Sebenarnya, ada jalan lain menuju ke sini: menyewa boat nelayan di Ulee Lheue. Hanya sepuluh menit, Anda akan dibawa mendarat di pantai Lhok Mata Ie. Tetapi jangan lupa siapkan uang tranportasi Rp200-300 ribu dan bekal makanan. maklum, tak ada satupun pedagang di sana.
Hari itu, kami bertemu serombongan siswa yang mengenakan seragam Pramuka. Mereka sedang melakukan survey awal untuk dijadikan lokasi perkemahan. Ryan Putra Fahlevi, sang pimpinan rombangan mengatakan mereka sengaja ke sana lantaran terpesona keindahan Lhok Mata Ie.
Awalnya, Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Banda Aceh itu sempat kesulitan menentukan lokasi berkemah.Iseng-iseng mereka mencari searching di internet. Gotcha! Pantai tersembunyi itu muncul di layar komputer. “Kami langsung jatuh hati ketika melihat foto-fotonya di internet,” ujar Rianda Fionna, siswa kelas II.
Ketika memutuskan mendaki, Rianda sempat ragu. Dari bawah, bukit yang membentang sempat menciutkan nyali. Benar saja, baru setengah jalan mereka sempat terengah-engah. Namun, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Begitu menjejakkan kaki di pasir putih, mereka langsung mencopot seragam pramuka di badan, lalu, byuurr...terjun ke laut.
"Sampai di pantai langsung hilang capeknya. Pokoknya gak nyesal jauh-jauh kesini. Dapat paket 2 in 1 nih, sambil hiking, bisa sekalian rekreasi," kata Rianda.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Ketika sore menjelang, kami memutuskan pulang. Di tengah jalan, kami bertemu beberapa kelompok kecil anak muda yang menuju ke Lhok Mata Ie. Rupanya, mereka berniat mendirikan kemah dan menghabiskan malam minggu di Lhok Mata Ie.
"Sayang bang, kalau gak menginap di sana," ujar Ridwan, salah satu dari mereka.
Ridwan mungkin benar. Namun, kami memilih tidak menginap. Yang pasti, kami pulang dengan satu tekad: ke pantai Lhok Mata Ie kami akan kembali.[]






Bg, saya minta izin untuk menggunakan foto yg ada di postingan ini ya.. Saya sertakan sumbernya di tulisan saya
ReplyDelete